Pada zaman dahulu
kala moyang marga Wirin dan Rumheng membawa sebuah busur dan anak panah pusaka
(Sangait) dari tempat yang jauh yaitu dari India.
Busur panah pusaka
ini memiliki kekuatan gaib karena dapat
membunuh banyak musuh dalam sekejap mata sehingga dikenal juga
sebagai senjata pemusnah masal. Fungsinya adalah sebagai alat perang
yang dipakai untuk menumpas kejahatan, angkara murka serta tindakan
kesewenang-wenangan. Sangait adalah alat perang pusaka yang digunakan oleh
marga Wirin dan marga Rumheng pada zaman dulu kala untuk mempertahankan
diri terhadap perlawanan dari pihak musuh atau membantu orang lain yang
dalam keadaan susah serta datang meminta
bantuan dari mereka.
Busur panah pusaka
yang terdiri dari sebuah busur dan 5 (lima) buah anak panah ini mempunyai kemiripan seperti busur panah
pusaka dari India.
Keunikan dari
Sangait yaitu bila dalam suatu peperangan atau pertempuran dan anak panah Sangait ini dilepaskan dari
busur (induknya) maka anak panah tersebut akan kembali lagi ke induknya setelah melenyapkan semua musuh.
Keunikan yang kedua
dari sangait yaitu bila dalam peperangan dan anak panah sangait dilepaskan maka penghalang apapun
yang di depan akan dihancurkan. Sangait juga
dapat menembus batu, tanah, besi,air bukit dan gunung.
Dalam setiap
peperangan sebelum anak panah Sangait dilepaskan harus ada pesanan dari yang
melepaskan anak panah tersebut bahwa apakah semua musuh dilenyapkan atau ada yang dibiarkan hidup. Semuanya tergantung dari pesanan dari yang
melepaskan anak panah Sangait tersebut. Sangait tidak digunakan sembarangan
tetapi digunakan hanya pada kondisi-kondisi yang mendesak. Setelah peperangan
maka Sangat harus dibersihkan dengan membaca mantra-mantra khusus lalu disimpan
kembali pada tempatnya. Tidak boleh ada sombar atau bayangan manusia terutama
perempuan yang sampai mengena Sangait tersebut.
Busur panah pusaka (
Sangait ) sejak dari leluhur telah digunakan dalam banyak peperangan yaitu
perang antara Leluhur Ur Pulau melawan Orang Papua di Sebelah Barat Ur
Pulau yang dimenangkan oleh leluhur dari
Ur Pulau, Kisah terjadinya hubungan Pela
antara Suku Kei dan Suku Seram lewat
terbunuhnya manusia Raksasa di Pulau Seram oleh Raja Tavu Rat dari Ur Pulau, Fun
Batar atau Perang di Pantai Rumheng Ohoi
Faan dimenagkan oleh orang Faan karena dibantu oleh leluhur dari Ur Pulau,
Perang di Tayando El yang dimenagkan oleh oramg Tayando Yamtel karena dibantu
oleh leluhur Ur Pulau, Perang di Den Kot Varat
melawan Bal Manlain yang dimenangkan oleh leluhur dari Ur Pulau, perang
Mu u Fun Fit antara Somlain dan Ohoiren melawan Ohoira yang dimenangkan oleh Somlain dan Ohoiren karena dibantu oleh leluhur
dari Ur Pulau dan lain-lain.
Busur panah pusaka tersebut sekarang masih
tersimpan di rumah tua Rahan Larwa dan dijaga oleh Bapak Titus J. Wirin di Ohoi
Ur Pulau.
Demikian cerita
rakyat dari Ohoi Ur Pulau Kecamatan Kei Kecil Barat Kabupaten Maluku Tenggara. Semoga bermanfaat.
----------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar